Dubes Negara Asing Bakal Hadir

***Batik Fashion Carnival Jadi Ajang Pamerkan Batik Megamendung Milik Cirebon
SUMBER – Gelaran Batik Fashion Carnival Kabupaten Cirebon 2015 yang akan dilaksanakan pada 5 April mendatang akan terasa spesial. Acara yang menjadi bagian dari perayaan hari jadi ke-533 Kabupaten Cirebon itu rencananya akan dihadiri duta besar dari beberapa Negara dan sejumlah menteri.
Hal itu disampaikan langsung Bupati Cirebon, Drs Sunjaya Purwadi Sastra MM MSi, usai melakukan monitoring kesiapan pelaksanaan Batik Cirebon Karnaval 2015, di halaman kantor Disbudparpora Kabupaten Cirebon pada beberapa hari lalu.
      “Kita akan undang duta besar dari Amerika, beliau insya Allah akan hadir. Duta besar Malaysia juga akan hadir, dan beberapa duta besar negara lainnya yang memang cinta budaya Indonesia. Beberapa menteri juga kita undang, semisal Menteri Pendidikan,” ungkap Sunjaya.
      Sunjaya menambahkan, pihaknya mengundang para duta besar dari beberapa Negara guna lebih memperkenalkan batik megamendung khas Cirebon. “Kita undang mereka, agar batik megamendung ini selain dikenal di dalam negeri, tetapi di manca Negara juga,” ujarnya.
      Selain untuk lebih mengenalkan batik megamendung, kata Sunjaya, diundangnya para duta besar dari beberapa Negara juga sekaligus menunjukkan bahwa batik megamendung milik Cirebon. Pasalnya, beberapa waktu lalu diketahui ada Negara lain yang mengklaim batik megamendung.
      “Di luar negeri ada yang mengklaim batik megamendung. Makanya kami berupaya bagaimana caranya batik megamendung ini jangan sampai diklaim daerah lain atau bahkan negara lain. Makanya kita munculkan bahwa batik megamendung asli dari Kabupaten Cirebon,” tuturnya.
      Bila Cirebon Karnaval tahun akan didominasi oleh batik megamendung, lebih lanjut dikatakan Sunjaya, tahun-tahun berikutnya bisa jadi giliran budaya Cirebon lainnya yang ditonjolkan, semisal topeng, sintren, dan lainnya.
      “Bahwa inilah Kabupaten Cirebon, merupakan sentral batik megamendung. Makanya di tahun ini karnaval batik megamendung dulu, tahun depan bisa saja sintren, topeng atau lainnya,” ujarnya.
      Untuk kesiapan sendiri, Sunjaya meminta kepada seluruh komponen yang akan terlibat dalam acara itu agar memanfaatkan waktu yang tersisa ini dengan maksimal untuk berlatih. Karena, pihaknya juga menargetkan melalui gelaran tersebut akan banyak wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Cirebon.
      “Kita targetkan bisa menghadirkan sebanyak-banyaknya wisatawan. Karena akan memberi dampak positif bagi perekonomian di Kabupaten Cirebon,” katanya.
      Batik Fashion Carnival Kabupaten Cirebon 2015 akan bertemakan The Truly of Megamendung. Rencananya, tak kurang dari 120 peserta asal Cirebon, dan 80 peserta dari luar Cirebon bakal memeriahkan acara yang akan mengambil start di depan Cirebon Busines Centre (CBC) dan finish di depan Hotel Patra Jasa pada 5 April mendatang itu.
      Untuk mengemas acara tersebut dengan suguhan busana batik yang cantik nan elegan, pihak panitia juga menggunakan konsultan dari Jember Fashion Carnaval (JFC), Dynand Fariz yang akan merancang kostum terbaiknya untuk ditampilkan dalam Fashion Carnival Kabupaten Cirebon 2015.
      “Motif batik megamendung sangat beda dengan motif batik yang lain. Motif ini memiliki khas yang luar biasa. Dan saya yakin batik megamendung bisa tembus hingga pasar dunia,” kata Dynand Fariz.

Mudun Lemah


**Menengok Tradisi Mudun Lemah di Desa Japura
Lestarikan Budaya Menginjak Tanah bagi Bayi 7 Bulan

Seiring berjalannya waktu, tradisi lokal di masyarakat ikut menghilang akibat arus modernisasi. Salah satunya dalah tradisi mudun lemah.

RATUSAN warga Blok Ketapang Desa Japura Kidul baik anak-anak dan dewan sekitar pukul 13.00 WIB sudah berada di kediaman M Lukman dan Iis Maesaroh.
Waraga ingin melihat dari dekat upacara mudun lemah Keisya Azizah Ramadhani yang merupakan anak dari M Lukman dan Iis Maesaroh.
Kendati banyak tamu, Keisya Azizah Ramadhani tidak rewel. Usai pembacaan doa oleh sepuh setempat, Keisya yang berusia baru 7 bulan itu diturunkan dari kursi. Sambil dipegangi kedua lengannya, kaki Keisya diinjakkan di beberapa piring yang sudah diisi oleh berbagai makanan mulai dari gula-gula, bubur lemu, tanah, padi dan makanan nasi serta lauknya. Setelah itu, ada sawer uang koin yang dilakukan orang tua Keisya untuk warga yang hadir. 
Menurut tokoh masyarakat sekitar, Abdullah Aman kepada Rakcer mengungkapkan bahwa tradisi tersebut memang sejak zaman leluhur sudah dilakukan dan sampai sekarang masih dilestaraikan warga sekitar. Diungkapkan Abdullah, dalam tradisi itu, anak berusia 7 bulan didandani kemudian didoakan dan dilepas dari gendongan orang tua untuk menginjakkan kakinya di wadah  yang sudah disiapkan.
“Tradisi mudun lemah sudah menjadi kebiasaan di daerah ini, setiap anak berusia 7 bulan melakukan adat mudun lemah. Setelah didoakan dengan ritual khusus sebagai simbol untuk mengenalkan anak kepada tanah untuk pertama kalinya,” ungkap Abdullah.
Dikatakan Abdulah, selaku tokoh masyarakat di daerah sekitar, dirinya merasa bersyukur dengan masih banyaknya masyarakat yang masih menjaga dan melestarikan adat yang menjadi budaya masyarakat Jawa.
Dengan demikian, Abdullah mengajak kepada semua masyarakat agar dapat terus melestaraikan dan menjaga tradisi yang menjadi kekayaan budaya Cirebon itu.
Dijelaskan Abdullah, tradisi mudun lemah atau dalam bahasa lain thedak siten memiliki maksud bahwa bayi berusia 7 bulan menapakan kaki pertama kali di tanah. (kim abdurrokhim)
FOTO : ABDURROKHIM/RAKYAT CIREBON
MUDUN LEMAH. Warga Desa Japura Kidul masih melestarikan tradisi mudun lemah kepada anak berusia 7 bulan, kemarin.

Kirab Budaya Bisa Jadi Objek Wisata Lokal


Bupati Brebes Diarak Naik Kereta Paksi Naga Liman
LOSARI- Ribuan warga memadati acara kirab budaya di alun-alun Panembahan Losari, Kabupaten Cirebon, kemarin.
Acara Kirab Agung Panembahan Losari yang dimulai sejak pagi hari itu, dimulai dengan acara arak-arakan budaya yang diikuti oleh ribuan pejalan kaki dengan penampilan-penampilan tradisi khas Cirebon.
Acara yang dilakukan untuk memperingati Haul Pangeran Antawijaya dan rutin diadakan setiap tahun tersebut dipadati warga.
Pantauan Rakcer di lokasi acara, Sabtu (24/1), menyebutkan bahwa dalam acara yang berlangsung sangat antusias tersebut banyak diiringi dengan beberapa seni budaya khas Cirebon, dengan mengarak beberapa hasil pertanian, makanan, dan beberapa kendaraan keramat dari Keraton Kasepuhan (Paksi Naga Lima) yang dalam acara tersebut diikutsertakan.
Dalam kesempatan itu pula, Bupati Kabupaten Brebes Hj Idza Priyanti AMd SE turut serta meramaikan dengan menunggangi sebuah kendaraan Paksi Naga Liman yang diarak dari mulai Panembahan.
Namun, tamu undangan yang diharapkan kehadirannya, yakni Bupati Sunjaya Purwadisastra dan PRA Arif Natadiningrat SE tidak tampak hadir dalam seni budaya yang rutin dilakukan setiap tahun itu.
Sepeti yang diungkapkan oleh Ketua Pantia, Humarno, acara kirab budaya yang dilakukan pada tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Pasalnya dalam kirab budaya tahun ini, pihaknya sengaja melibatkan dua wilayah pemerintahan antara Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Brebes yang memiliki turun-temurun masih memiliki tradisi dan budaya yang sama.
“Ini merupakan acara kirab budaya yang dilakukan rutin setiap tahun dan akan terus dilakukan dan dilestarikan. Dan di tahun ini ada bebrapa perbedaan dan lebih bermakna, karena kami di sini sengaja menggabungkan dua wilayah Cirebon dan Berebes untuk dapat menyatukan kesamaan tradisi,” ungkap Humarno, Sabtu (24/1).
Dikatakan Humarno, Meski demikian, pihaknya merasa bersyukur dan berterima kasih kepada semua kalangan yang turut membantu dan menyukseskan acara tradisi rutin tersebut.
Dirinya juga memiliki rencana di acara kirab budaya tahun depan untuk dapat lebih maksimal dan terus mempertahankan tradisi kedua wilayah itu. “Kami akan terus mengajak para generasi muda untuk dapat turut serta dalam melestarikan budaya dan tradisi yang dimiliki,” katanya.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua kalangan yang membantu mensukseskan acara ini. Dan kami juga sangat berterimakasih kepada Bupati Brebes yang sangat perhatian terhadap situs sejarah, seperti Makam Pangeran Antawijaya yang telah mengahadiri acara ini dan Pemkab Brebes juga sudah membantu dalam pembangunan situs ini,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Idza saat dikonfirmasi seusai acara mengungkapkan, pihaknya memang sangat mempedulikan sebuah tradisi yang ada. Pihaknya juga mengaku akan terus mendukung dan siap turut serta menjaga kelestarian tradisi yang ada. Karena bagaimana pun juga menurutnya sebuah tradisi adalah kekayaan yang perlu dijaga dan dilestarikan.
“Kami di sini sangat mendukung dengan adanya acara rutin tahunan ini. Kami juga yakin akan berusaha turut membantu membangun dan melestarikan budaya. Karena tradisi atau budaya ini kekayaan kita yang harus dijaga dan dilestarikan,” jelasnya.
Idza juga mengungkapkan rasa terimakasihnya terhadap Pemerintah Kabupaten Cirebon yang juga telah bekerjasama dengan baik dalam acara tersebut.
Pihaknya juga akan terus melanjutkan dan mengembangkan acara kirab budaya dan haul Pangeran Antawijaya tersebut rutin setiap tahun untuk menjaga kelestarian budaya sebagai kekayaan bersama. (kim)
FOTO : KIM ABDURROKHIM/RAKYAT CIREBON
KIRAB BUDAYA. Bupati Kabupaten Brebes Hj Idza Priyanti AMd SE melambai tangan saat mengikuti kirab budaya yang dihelat masyarakat Losari Cirebon, kemarin.

BLHD dan LSM Tanam Pohon Kelapa dan Sukun

Cegah Abrasi, Mimpi Jadi Kawasan Wisata Bahari

Ancaman abrasi, membuat sejumlah elemen masyarakat melakukan penghijauan di daerah pantai di Desa Jatimulya Kecamatan Gunungjati.

WARGA bersama LSM Panglaot, pemerintah desa setempat, dan pegawai dari Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) bahu-membahu melakukan aksi penanaman ratusan pohon. Selain pohon mangrove, mereka juga menanam pohon kelapa dan sukun.
Di sela-sela penanaman pohon, Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan (BLHD) Kabupaten Cirebon, H Yogi Suwarta mengatakan, pihaknya memang sedang fokus melakukan penanaman pohon di berbagai wilayah. Mengenai penanaman pohon kelapa dan sukun, Yogi beralasan, jika pohon itu selain menangkap karbondioksida juga sebagai upaya melestarikan ketahanan pangan.
“Kami sengaja melakukan penanaman kedua pohon di sini, karena menginginkan seperti di daerah Tuban. Di sana daerah pantai sudah berhasil menjadi wisata bahari,” ungkapnya kepada Rakcer, Selasa (20/1).
Dikatakan Yogi, pihaknya juga sudah melakukan hal serupa di beberapa tempat lain seperti di daerah Mundu dan pantai yang berada di daerah Gebang dengan menanam pohon mangrove. Hal itu dilakukan karena banyak daerah pantai di Kabupaten Cirebon yang memiliki potensi besar menjadi wisata bahari. Selain itu, pantai kabupaten juga berpotensi juga sebagai tempat berkemah dan memancing.
“Penanaman pohon ini jangka panjang dan memang tidak bisa dirasakan hasilnya sekarang, tapi beberapa tahun kedepan kita akan kita manfaatkan. Semoga pohon-pohon ini akan tumbuh seperti yang kita harapkan,” harapnya.
Sementara itu, Ketua LSM Panglaot Yudha Putra Teuku Fachrudin mengungkapkan, dalam beberapa bulan kedepan, pihaknya sudah merencanakan akan melakukan penanaman 15 ribu pohon mangrove lagi di Desa Jadimulya seperti yang sudah sering pihaknya lakukan di tempat itu dan daerah lain di Kabupaten Cirebon.
Mengenai penanaman pohon kelapa, Fachrudin menyebutkan, memiliki kemampuan untuk mengikat abrasi selain tanaman mangrove.  “Abrasi di pantai Desa Jadimulya ini berlangsung dengan cepat. Dengan demikian, selain menanam mangrove yang sudah dilakukan, pihaknya juga sengaja mencoba menanam pohon kelapa. Apalagi kedua pohon itu merupakan jenis pohon terkenal untuk dijadikan komoditas makanan,” kata Fachrudin.
Menurutnya, penanaman pohon kelapa dan suku juga sebagai langkah ikut mengkampanyekan program ketahanan pangan pemerintah. (kim abdurrokhim)
FOTO : KIM ABDURROKHIM/RAKYAT CIREBON
TANAM. BLHD beserta LSM menanam pohon kelapa dan sukun di pantai Desa Jadimulya, kemarin.

Pasar Batik

80% Penjualan Batik Harus Asli Cirebon
**Disperindag Lakukan Seleksi Perajin Batik yang Tempati Kios

SUMBER– Pasar Batik Trusmi yang sudah rampung dikerjakan. Akan tetapi, Pasar Batik itu baru dioperasikan saat hari ulangan tahun Kabupaten Cirebon pada bulan April mendatang.
Informasi yang dihimpun Rakcer, saat ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon masih melakukan seleksi terhadap penrajin batik untuk ditempatkan di pasar tersebut.
Seleksi itu berdasarkan atas masukan dari asosiasi perajin batik serta tokoh masyarakat.
Selain itu, Disperindag memberlakukan sistem penjualan batik 80-20. Maksudnya, 80 persen batik yang dijual adalah produk asli Kabupaten Cirebon, dan sisanya adalah batik dari luar daerah.
Kadisperindag Kabupaten Cirebon, H Sofyan membenarkan, saat ini pihaknya tengah melakukan tahapan seleksi terhadap perajin yang mendaftarkan diri untuk menempati pasar.
Dikatakan Sofyan, di Kabupaten Cirebon sendiri ada sekitar 500 perajin yang kesemuanya harus difasilitasi.
Kesulitan yang dihadapi Disperindag, kata dia, adalah mengeluarkan kebijakan terhadap pengisi kios pasar batik yang berjumlah 120 kios.
Dia juga menyebutkan, tengah mempersiapkan formula untuk tidak menimbulkan gejolak pada sesama pengrajin.
“Kios itu hanya 120 dan jumlah perajin empat kali lipatnya. Belum lagi dari pihak luar yang mendaftar karena memang diperbolehkan untuk mendaftar. Kita sudah menerima bahan dari asosiasi dan sekarang lagi kita godok dengan beberapa pihak terkait,” ujar pria yang akrab disapa Opang ini, kemarin.
Opang menambahkan, pembukaan pasar batik tetap akan dilakukan pada bulan April mendatang. Dengan demikian, waktu yang tersedia sekarang hinga bulan April, akan dimanfaatkan untuk melakukan seleksi penempatan kios.
“Entah dalam satu kios itu dua perajin atau bagaimana nanti kita cari formulasi yang tepat. Kita pasti akan mengutamakan kepada perajin lokal. Dan yang perlu digarisbawahi, kios itu gratis,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cirebon Made Casta sangat mendukung upaya Disperindag untuk membuat peraturan mengenai penjualan batik di pasar itu.
Dengan adanya aturan yang diterapkan, Made yakin akan membuat geliat industri batik khas Cirebon akan kembali meningkat.
“Hasil rapat kemarin, kebijakannya, pedagang harus menjual hasil batik 80 persen dari Cirebon. Selain itu, ada kebijakan untuk mengantisipasi hasil karya batik tulis yang cukup mahal, maka diperbolehkan untuk membuat batik print namun dengan kuantitas yang tidak banyak. Itu hasil rapat beberapa waktu lalu dan belum ada informasi lanjutan,” ujarnya.

Jalan Cipto Ruwet

Arus Lalin Jalan Cipto Ruwet
**Banyak Parkir Liar, Sering Macet hingga Halte Dipakai PKL

KESAMBI- Persoalan yang terdapat di Jalan DR Cipto Mangunkusumo tak ada habisnya. Tak hanya masalah aspalan jalan yang kerap mengundang kritik pedas, termasuk yang terakhir adalah proyek betonisasi, arus lalu lintas di ruas jalan itu pun kian hari tambah ruwet.
Ruwetnya kondisi lalu lintas di ruas jalan utama dalam kota itu disebabkan beberapa hal. Selain memang padatnya aktivitas manusia, karena di sana terdapat pusat perbelanjaan, hotel, rumah makan, hingga pusat pendidikan, kesadaran masyarakat untuk mematuhi rambu lalu lintas pun masih lemah.
Beberapa titik yang terbilang rawan kemacetan cukup serius, di antaranya sebelum perempatan Jalan Cipto-Jalan Pemuda apabila arah dari Gunungsari, di depan SMAN 2 Kota Cirebon di kedua lajur, serta di depan SMA BPK Penabur di kedua lajur.
Hampir di setiap jam masuk dan pulang sekolah, di dua titik terakhir tadi nyaris selalu macet.
Khusus di lajur Gunungsari menuju perempatan Jl Cipto-Jl Pemuda tepatnya sebelum perempatan, nyaris setiap waktu macet dengan jarak yang cukup panjang.
Padahal, di perempatan Jl Cipto-Jl Pemuda terdapat traffic light. Macetnya arus lalu lintas di kawasan tersebut disnyalir karena ruas jalan kurang lebar.
Ditambah lagi terdapat akses masuk dan keluar salah satu pusat belanja barang elektronik.
Menjamurnya parkir liar pun ikut andil dalam menyebabkan kemacetan panjang. Di sepanjang jalan mulai dari depan SMA BPK Penabur hingga perempatan Gunungsari misalnya.
Di sana nyaris tiap waktu dipadati kendaraan baik roda dua maupun empat yang parkir. Padahal, di sana terdapat larangan parkir.
Kondisi itu diperparah oleh sebagian besar angkutan kota (angkot) yang kerap berhenti untuk mengangkut atau bahkan menunggu penumpang.
Di sisi lain, keberadaan halte bagi masyarakat untuk menunggu datangnya angkot, fungsinya nyaris hilang.
Pasalnya, keberadaan halte justru dimanfaatkan oleh Pedagang Kaki Lima (PKL). Sehingga tak sedikit masyarakat atau pelajar yang hendak menunggu angkot, harus berdiri di badan jalan.
Salah seorang PKL yang berjualan persis di depan halte SMAN 2 Kota Cirebon mengaku, dirinya sudah lama berjualan di situ.
Ia merasa tidak begitu mengganggu fungsi dari halte tersebut, karena lapaknya tak menutupi semua halaman halte. “Ini kan tidak menutupi semuanya. Masih ada (ruang) untuk yang mau ke halte,” kata pedagang itu seraya enggan menyebutkan namanya.
Ironisnya, meski dipastikan keberadaannya illegal, PKL yang berjualan di sepanjang jalan itu dikenakan restribusi kebersihan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Cirebon sebesar Rp500 per hari. “Kita di sini cuma bayar ini saja,” kata dia seraya menunjukan karcis retribusi yang dimaksud.
Kondisi ruwetnya arus lalu lintas di Jalan Cipto tentu mengundang reaksi dari berbagai elemen.
Tak hanya masyarakat yang mengeluhkan ketidaktertiban lalu lintas di Jl Cipto, anggota dewan pun mengeluhkan hal yang sama.
“Kalau lewat sini mesti macet. Dan anehnya kok tidak ada upaya penertiban yang dilakukan pemerintah kota. Padahal untuk rambu lalu lintas, saya lihat sudah cukup lengkap dan rapih,” kata salah seorang pengguna jalan yang juga pegawai swasta di salah satu perusahaan, Ida Farida.
Hal senada disampaikan anggota Fraksi Golkar DPRD Kota Cirebon, Agung Supirno SH. Karena jengah dengan kamecatan yang kerap terjadi di Jl Cipto, sampai-sampai ia lebih sering menggunakan sepeda motor untuk menuju gedung dewan, ketimbang mobil dinas.
“Kalau pakai motor kan bisa lebih cepat. Karena kalau pakai mobil, macetnya itu lho yang luar biasa,” kata pria yang juga ketua Badan Pembentuk Peraturan Daerah (BPPD) itu.
Sementara itu, beberapa waktu lalu Kabid Bina Marga DPUPESDM Kota Cirebon, Hj Imas Maskanah ST menyampaikan, pihaknya memproyeksikan pelebaran badan jalan sepanjang Jl Cipto.
“Akan direalisasikan secara bertahap. Karena memang upaya pelebaran jalan ini diharapkan bisa mengurangi kemacetan,” kata Imas.

Pesta Kembang Api

Tahun Baru 2015, Perhelatan Pesta Kembang Api di Gua Sunyaragi
***Perhelatan Warsa Enggal Pesta Kembang Api Berlangsung Semarak dengan mengajak masyarakat mencintai tradisi lokal

KESAMBI– Ribuan kembang api menghiasi langit Gua Sunyaragi, pada pergantian malam tahun baru, kemarin (1/1).
Pesta kembang api berbagai warna selama 10 menit itu membuat warga yang menyaksikan berdecak kagum.
Pertunjukan kembang api pertama di Kota Cirebon tersebut dibuka langsung Sultan Sepuh XIV Keraton Kesepuhan, Pra Arif Natadiningrat.
Dalam sambutan pembukaan, Sultan Arif mengajak warga yang menyaksikan untuk berdoa bersama. Sebagai bentuk empati dan belasungkawa terhadap tragedi jatuhnya pesawat Air Asia yang menewaskan 155 penumpangnya.
Selain itu, pihaknya juga mengajak masyarakat Kota Cirebon untuk mencintai dan menghargai budaya dan tradisi lokal.
“Cirebon memiliki bahasa, makanan dan budaya yang khas. Yang tidak dimiliki daerah lain nya. Kita harus melestarikan dan bangga terhadap kekayaan budaya sendiri,” ujarnya.
Pagelaran seni dan budaya terbesar dan pertama kali di wilayah III Cirebon tersebut, lanjutnya, merupakan bukti apresiasi terhadap kebudayaan dan seniman lokal.
Sebanyak 200 lebih seniman dijadwalkan tampil pada malam pergantian tahun baru tersebut. Namun, karena cuaca dan waktu yang tidak memungkinkan, hanya beberapa seniman yang ditampilkan pada malam itu.
Ditambahkan sultan, dirinya juga mengajak warga untuk bangga menggunakan bahasa Cirebon. “Gunakan bahasa daerah itu dalam kehidupan sehari-hari. Tapi bukan yang negatif seperti kirik,” seloroh Sultan disambut tawa dan yang hadir.
Menurut pantauan wartawan koran ini di lokasi acara, Meski diwarnai dengan hujan, pagelaran seni tersebut tetap berlanjut. Megahnya panggung dan lighting berkelas membuat warga enggan berpindah dari tempat duduk.  
Sementara itu, anggota dewan dari Fraksi Partai Hanura, Jafarudin mengatakan, pagelaran seni tersebut sangat pas bertempat di Gua Sunyaragi, berlatar belakang gua, dengan panggung mewah ditambah permainan lighting yang turut menambah kesan historisnya.
“Saya turut mengapresiasi pagelaran seni tersebut. Saya mengajak warga untuk turut meriahkan dan menyaksikan secara langsung,” ujarnya.
Ratusan warga yang tak mempunyai tiket untuk menyaksikan dari dekat, menyaksikan dari luar dan Jalan Raya Brigjen Darsono. Sehingga sempat membuat arus lalu lintas mengalami kemacetan  beberapa jam.
FOTO  : KIM ABDURROKHIM/RAKYAT CIREBON
KEMABANG API. Ribuan kembang api saat pergantian malam tahun baru di Gua Sunyaragi, kemarin.

Muludan Beri Berkah bagi Pedagang dan Juru Parkir

LEMAHWUNGKUK- Perayaan Muludan memberikan berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar Keraton Kesepuhan, diantaranya warga Cangkol dan  Pulasaren. Perayaan setahun sekali tersebut dimanfaatkan dengan membuka lapak jualan ataupun parkir.
Seperti yang diakui oleh salah satu pedagang, Jumairoh (40) yang sudah berjualan di sekitar situs Sumur Ketandan hampir 10 tahun.
Diakuinya, pada bulan mulud seperti ini, ia mendapatkan omzet cukup besar dibandingkan dengan hari-hari biasa. “Kan pengunjungnya dari pagi hingga malam,  ada saja yang beli. Jadi lumayan mas penghasilannya,” ujarnya.
Diungkapannya, dalam satu hari, ia mampu mengantongi uang lebih dari Rp300 ribu. Dibanding dengan hari-hari biasa, kata dia, jumlah tersebut cukup besar.
Keuntungan terbesar juga didapatkan oleh para juru parkir. Mereka mematok retribusi sebesar Rp2.000 hingga Rp3.000 untuk kendaraan bermotor.
Sedangkan  untuk kendaraan roda empat sebesar Rp5.000 bahkan lebih.
Sementara itu, aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Cirebon, Masrur (23) mengatakan, pada saat perayaan muludan seperti itu, memang wajar masyarakat memanfaatkannya dengan berjualan dan penyedia jasa parkir. 
Namun, kata Masrur, tetap harus menjaga kenyamanan dan keamanan pengunjung. “Apakah dengan tarif seperti itu pengunjung tak mengeluh? Dan apakah masuk kas daerah? Itu perlu dievaluasi,” ujarnya.
Oleh karena itu, lanjut Masrur, pemerintah Kota Cirebon melalui Dinas Perhubungan (Dishub), seharusnya mampu menertibkan nya. “Bayangkan, berapa besar retribusi yang dihasilkan selama muludan? Jika tiap kendaraan ditarik Rp3.000 ribu dan selama satu hari sebanyak 300 kendaraan. Maka jumlahnya Rp900.000, kemudian dikalikan jumlah titik parkir yang tersedia dan hari selama perayaan. Dari jumlah total tersebut, kata dia, berapa persen yang masuk kedalam khas daerah?,” katanya.
Dirinya tak menyalahkan warga memanfaatkan momen tersebut untuk menyediakan jasa parkir, selama hal itu tak merugikan pengunjung dan bisa memberikan masukan terhadap pemerintah. “Itu sah-sah saja. Tapi kalau tidak seperti itu. Ya perlu dipertanyakan,” imbuhnya.

Muludan

Amankan Muludan dengan Berpatroli
KEJAKSAN – Setelah mengamankan perayaan natal, kini kepolisian resort (Polres) Cirebon Kota melakukan pengamanan menjelang perayaan muludan.
Pos pengamanan yang sudah didirikan sejak beberapa waktu lalu, sudah mulai ditempatin sejak Sabtu (27/12) lalu.
Pengamanan yang terdiri dari polisi, selama 24 jam menjaganya. Selain pengamanan di pos, Polresta juga menyiapkan personil dari kesatuan Sabhara untuk melakukan patroli keliling, dengan menggunakan kendaraan bermotor dilengkapi juga senjata api.
Kapolres, AKBP Dani Kustoni melalui Kasat Sabhara, AKP Nana Ruhiana mengatakan, pengamanan natal, tahun baru dan muludan terus dijaga, sehingga pihaknya terus melakukan patrol. Diungkapkan, pada kegiatan mulun ribuan warga yang mengunjungi keraton tersebut perlu mendapatkan keamanan. Karena keramaian adalah potensi tindak kejahatan seperti, penjambretan, pencurian dan lainnya.
“Oleh karenanya, ada yang menjaga di pos dan keliling,” ujarnya.
Petugas yang dilengkapi senjata api tersebut adalah sebagai antisiapasi, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ia juga selalu berpesan terhadap seluruh anggotanya, untuk tetap waspada dalam menjalankan tugas.
Berbagai persiapan pun telah dilakukan salah satunya membekali diri ilmu bela diri. Ditambahkan, berbagai kemungkinan bisa saja terjadi di lapangan, oleh karena itu anggotanya harus disiapkan secara maksimal sehingga acara muludan hingga tahun baru 2015 bisa berjalan lancar. (kim)

Sedekah Bumi

 

***Ribuan Warga Sigong Lemahabang Ramaikan Tradisi Rutin Tahunan Sedekah Bumi

LEMAHABANG – Ribuan warga Desa Sigong Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon mengadakan tradisi sedekah bumi, kemarin.
Pantauan wartawan koran ini di lokasi, warga sudah memadati lokasi arak-arakan sejak pagi pukul 07.30 WIB. Bahkan, tradisi tahunan itu bukan hanya diikuti oleh masyarakat desa setempat saja, akan tetapi juga dihadiri lapisan masyarakat se-wilayah Kecamatan Lemahabang.
Kuwu Desa Sigong, Ade Mulyadi mengatakan, acara sedekah bumi merupakan wujud dari rasa syukur yang dilaksanakan setiap tahun.
“Tradisi sedekah bumi merupakan salah satu bentuk ritual tradisional masyarakat yang sudah berlangsung secara turun temurun oleh asyarakat yang menggantungkan hidup keluarga dan sanak saudaranya dari mengais rezeki dari kekayaan alam di bumi ini,” ungkap Ade Mulyadi, Minggu (7/12).
Dijelaskan Ade, rangkaian kegiatan sedekah bumi diawali dengan diadakannya sebuah acara pawai keliling desa dengan arak-arakan dengan membawa nasi tumpeng induk dan nasi tumpeng dari masing-masing perwakilan dusun yang sebelumnya dikumpulkan terlebih dahulu di  Balaidesa Sigong.
Setelah pawai keliling desa, nasi tumpeng dikumpulkan kembali di halaman kantor balaidesa untuk dilakukan prosesi sakral yaitu upacara adat yang dipimpin oleh sesepuh desa. Usai di doakan, lanjutnya, nasi tumpeng disantap bersama-sama seluruh lapisan masyarakat.
Menurut Ade, tradisi ritual turun temurun ini tidak sekadar kegiatan rutinitas, akan tetapi mempunyai makna yang lebih dari itu. “Upacara tradisional sedekah bumi sudah menjadi salah satu bagian yang sudah menyatu dengan masyarakat kami. Dan upacara ini sekaligus melesatarikan nilai tradisi lokal,” tandasnya.
Ade bertekad, akan terus menjaga dan mempertahankan lahan pertanian yang ada sebagai sektor utama perekonomian masyarakat desa.
Hal senada dikatakan Kabid Kebudayaan Disbudparpora Kabupaten Cirebon, H Dedi Supriyadi SH. Menurut Dedi, adanya tradisi budaya sedekah bumi di Desa Sigong dirasa sangat baik. “Kegiatan ini bisa dijadikan sebagai ajang tali silaturahmi antar masyarakat desa,” katanya.
Menurutnya, sedekah bumi yang terus dilanggengkan juga merupakan salah satu cara  pelestarian budaya dan  meningkatkan sektor ekonomi kreatif lainnya di Desa Sigong.
“Upaya dari dinas adalah mengimbau dan menggali kebudayaan yang hampir punah dan akan melestariakannya,” pungkasnya. (kim)
FOTO : KIM ABDURROKHIM/RAKYAT CIREBON
ANTUSIAS. Warga Desa Sigong larut dengan acara sedekah bumi dengan menampilkan berbagai atraksi dan kreasi, kemarin.

Nadran Jadi Objek Wisata Lokal


PANGENAN– Ratusan warga Desa Ender Utara Kecamatan Pangenan memadati acara nadran di Lapangan Bima Sakti dan sungai desa setempat, kemarin. Menurut tokoh masyarakat, Aghuts Muhaimin, nadran merupakan sebuah tradisi masyarakat nelayan yang perlu dilestarikan sebagai bentuk syukuran kepada Allah SWT atas segala nikmat.Nadran, menurutnya, bisa menjadi momen wisata lokal untuk berlibur. “Nadran merupakan tradisi yang harus dijaga dan dilestarikan karena bisa menjadi objek wisata tersendiri,” ungkap Aghuts Muhaimin yang juga merupakan seorang pengasuh pondok, Kamis (18/9).

Dikatakan Aghuts, nadran mampu menyedot perhatian banyak orang, bukan hanya warga Cirebon, melainkan berasal dari kota lain untuk menyaksikan pesta rakyat tahunan tersebut.
Dalam acara tersebut, semua orang yang mengunjungi bisa berlayar di laut lepas bersama keluarga. 

“Tradisi ini menjadi objek menarik, sebagai warisan nenek moyang bagi masyarakat nelayan yang memiliki perhatian khusus oleh wisatawan,” katanya.
Ditambahkan Aghuts, dalam acara tersebut, sebagai bentuk rasa syukur, para nelayan membuang sebuah kepala kerbau ke tengah-tengah laut. 

“Hal itu sebagai makna memberi makan ikan agar ikan di laut semakin banyak. Logikanya, ikan-ikan hampir setiap hari diambil oleh nelayan. Rasa syukur ini sebuah ekspresi keberagamaan mereka,” bebernya.

Dia juga menambahkan, karakter masyarakat nelayan yang terbuka, pekerja, memiliki solidaritas, dan kekeluargaan yang tinggi ini, belum bernasib baik dalam bidang ekonomi mereka. “Seharusnya persoalan ekonomi ini menjadi perhatian khusus pemerintah, agar siklus kehidupan para nelayan stabil,” tandasnya. 

Sementara karakter maritim negeri ini, menurutnya, tidak berpihak bagi profesi nelayan untuk hidup bertahan. “Putus sekolah, pengangguran karena cuaca tidak mendukung untuk kelaut. Sementara biaya kehidupan gali lubang tutup lubang. Pemerintah harus memberikan solusi agar kehidupan mereka lebih baik lagi,” bebernya. (kim)
FOTO : KIM  ABDURROKHIM/RAKYAT CIREBON
PESTA RAKYAT. Warga Desa Ender Utara melakukan tradisi pesta laut atau nadran sebagai bentuk ungkapan rasa syukur, kemarin.
Powered by Blogger.