Siswa Titipan Kebijakan dari Disdik



**Penambahan Rombel di SMA Negeri 1 Sebanyak 7 Kelas 

KEJAKSAN- Jumlah siswa titipan dan penambahan rombongan belajar (rombel) di sekolah tidak karuan.
Pantauan wartawan koran ini di SMA Negeri 1 Cirebon misalnya, penambahan rombongan belajar sampai 7 kelas, dari  9 menjadi 16 kelas. Padahal sebelumnya, pihak sekolah mengaku penambahan rombel hanya 4 kelas. 
“Kita buat menjadi 16 kelas. Per kelasnya diisi 42 murid. Penambahan kita menggunakan 3 laboratorium, aula di sekat menjadi 2 kelas dan ruangan multimedia,” ujar Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Kota Cirebon, Totong Muslihat kepada Rakcer, Jumat (31/7).
Totong mengaku tidak bisa berbuat apa-apa terkait banyaknya siswa titipan dan membengkaknya jumlah rombongan belajar (rombel).
”Kalau sekolah menerima murid sesuai dengan kuota pada saat PPDB Online. Akan tetapi, untuk penambahan siswa datangnya dari Dinas Pendidikan Kota Cirebon,” aku Totong.
Ditegaskan Totong, dirinya menyediakan ruang itu untuk mengantisipasi kiriman siswa dari Disdik. “Mau nolak bagaimana, kebijakan ada di Dinas Pendidikan,” ujarnya.
Totong tidak bisa berbuat banyak ketika dilontarkan berbagai pertanyaan oleh wartawan mengenai membludaknya jumlah siswa. 
Pasalnya SMA favorit yang mengandalkan nilai ini menjadi sekolah yang paling parah dalam penerimaan siswa titipan dari jalur gakin. 
Pihaknya, tegas Totong, hanya sebagai pelaksana dan hanya  melaksanakan saja.
“Silakan ke Disdik, kita hanya pelaksana. Kita menerima sesuai rombel, kelebihan siswa kirimian dari Disdik,” ucapnya.
Sementara itu, SMP Negeri 5 kota Cirebon, yang merupakan salah satu SMP favorit juga mengalami mengalami kiriman siswa. Pantauan Rakcer, di SMP 5 kuota sebanyak 251 menjadi 385 siswa, ada penambahan sekitar 3 kelas. Pihak sekolah terpaksa menggunakan ruang pramuka, OSIS dan Kader Kesehatan Remaja.
Kepala sekolah SMP 5 Kanti Rahayu, ketika didatangai wartawan sempat mengelak dan menolak ketika dimintai keterangan terkait PPDB. 
Namun akhirnya dengan sedikit nada bicara yang tersendat-sendat, sedikit memberikan konfirmasi. “No comment, langsung ke Disdik saja konfirmasinya, semuanya sudah dilaporkan ke Disdik,” ucapnya singkat. 
Terpisah, Wakil Sekolah Bidang Kesiswaan SMP 5 Kota Cirebon, Maman Suryaman mengakui, penambahasn siswa yang akhirnya melebihi rombel datangnya dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cirebon. 
Pihaknya hanya, sebut Maman, sebagai pelaksana dan berusaha melayani dengan maksimal.
“Penambahan datangnya dari dinas, kami hanya berusaha melayani dengan maksimal. Mau gimana lagi, kalau keinginan sih sebetulnya semua sekolah negeri ingin sesuai dengan rombel, tapi mau gimana,  kami tidak punya kebijakan,” tukasnya. 
Ketika wartawan koran ini ingin menghubungi ketua Pelaksana PPDB Online 2015 serta Kepala Disdik Kota Cirebon, tidak ada jawaban.
Pantauan wartawan koran ini, jumlah rombongan belajar SMP Negeri 1 Cirebon  yang semula 12 kelas menjadi 14 kelas dengan rata-rata murid 42 dalam satu kelas.  Sedangkan, SMA Negeri 6 yang semula 11 kelas menjadi 14 jelas, dengan rata-rata murid 41 dalam satu kelas. 
SMA 2 yang semula 9 kelas menjadi 11 Kelas, dengan rata-rata murid 42 dalam satu kelas. Terparah terjadi di SMA Negeri 1, yang semula 9 kelas menjadi 17 Kelas, dengan rata-rata murid 42 dalam satu kelas.

19 Tahun Idap Hydrocepalus, Keluarga hanya Bisa Pasrah


Sudah hampir 19 tahun, Suwendo mengidap penyakit hydrocepalus. Hingga kini, warga yang tinggal di Blok Manis 2 RT03/03 Desa Japura Kidul Kecamatan Astanajapura ini hanya bisa pasrah dengan penyakit yang diteritanya itu.

KECERIAAN tampak di wajah Suwendo. Saat wartawan koran ini datang kediamannya, Sewendo yang kala itu mengenakan kaos hitam sedang berada di teras rumah.
Seolah tidak sedang mengalami sakit serius, pria yang mengidap penyakit hydrocephalus sejak usia dua bulan itu asyik bersenda gurau dengan saudaranya.
Suwendo memang hanya sesekali keluar rumah dengan merangkak. Biasanya, Suwendo hanya bisa terbaring di tempat tidur.
Menurut pengakuan Carini, ibu Suwendo, pihaknya tidak bisa membawa anaknya berobat karena keterbatasan biaya. “Saya sudah lama ditindal suami, jadi saya gak kuat untuk membiayai berobat,” katanya.
Dikatakan Carini, jangan kan untuk biaya perawatan di rumah sakit, untuk biaya sehari-hari saja masih sulit. 
Carini mengaku hanya bisa pasrah dan mengharapkan adanya uluran tangan dari pemerintah dan kepada dinas terkait untuk meringankan beban Suwendo.
Diakui Carini, selama ini ada bantuan dari warga dan donatur tetapi bantuan sembako. “Setelah memberi bantuan setelah itu gak ada kelanjutannya,” ujarnya.
Padahal, sambungnya, dirinya ingin mengobati anaknya dan berharap bisa sembuh.
Sementara itu, Suwendo sendiri masih bsia berkomunikasi, tetapi tidak seperti orang kebanyakan. Saat ditanya masalah cita-cita, Suwendo dengan jelas mengungkapkan dirinya ingin menjadi kiai atau ustad.
“Saya setiap hari tidur saja, bosen ya keluar rumah,” ungkap Suwendo.
Selama dirinya mengidap penyakit tersebut, dirinya memang sama sekali tidak mengenyam pendidikan formal maupun non formal seperti layaknya kebanyakan orang seusaianya.
Suwendo mengaku ingin sembuh dari sakit yang dideritanya sejak bayi itu. “Saya ingin sembuh tetapi tidak bisa berobat,” tutupnya. (kim)
FOTO : KIM ABDURROKHIM/RAKYAT CIREBON
INGIN SEMBUH. Suwendo (tengah) selama 19 tahun mengidam penyakit hydrocephalus tetapi tidak mampu berobat, kemarin.

Unjuk Rasa Ormas

Unjuk Rasa Ormas Cederai
Pesantren Hafalan Alquran

PALIMANAN – Aksi unjuk rasa massa dari Aliansi Masyarakat Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Almanar) di Pondok Pesantren (Pontren) Nurul Qur’an Desa Setu Kulon, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon dikritik banyak pihak. Setelah sebelumnya lembaga yang menaungi pondok pesantren Rabithah Ma’ahid Islamiy (RMI), kemarin (19/2) giliran Rijalur Ansor yang melayangkan cibiran.
Ketua Rijalur Ansor Kabupaten Cirebon, KH Syarif Hasan Yahya mengatakan, unjuk rasa di pontren yang mengajarkan hafalan Alquran itu telah merusak citra pesantren. Padahal apa yang dituduhkan hanyalah kepada oknum dan tuduhannya masih harus dibuktikan baik di meja fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) maupun pihak kepolisian.
Menurutnya, bila organisasi membawa nama Islam hendaknya amaliahnya bisa menyesuaikan dengan ajarannya. Dalam etika Islam, sambungnya, diajarkan tabayyun atau klarifikasi. Sehingga sebelum melakukan aksi harusnya bisa dipetakan siapa yang dituduh, aksi itu tepat atau tidak, dan tidak menyimpulkan serampangan.
“Kami mengenal Pesantren Nurul Qur’an dikelola Nyai Hj Fatmah bin KH Nawawi, istri dari KH Mahmud. Beliau hafidzah (hafal Qur’an) dan mengajarkan hafalan Alquran. Dan kami warga Kabupaten Cirebon tahu siapa KH Nawawi bapaknya dan siapa KH Mahmud suaminya. Mereka tak ada riwayat sesat. Mereka ulama alim Nahdlatul Ulama (NU),” ujarnya.
Soal tudingan terhadap H Idris, kata dia, harusnya bersifat pribadi, karena justru bukan sebagai pengajar dominan di pesantren itu. Kalaupun dalam kacamata MUI nanti dianggap melenceng, seharusnya bukan tindakan kasar yang harus diberikan.
“Sebagai manusia ada yang melenceng atau bengkok. Maka tugas kita sebagai orang yang tahu dia melenceng ya diluruskan. Tugas kita meluruskan. Bukan dengan ‘kekerasan’ atau unjuk rasa yang seolah-olah seisi pesantren itu salah,” kata dia.

Pelajar SMA Terbitkan Bulletin

*** Pelajar SMAN 1 Lemahabang telah terbitkan Bulletin LIGHT edisi 13
LEMAHABANG – Bulletin LIGHT (Luapan Inspirasi Gagasan Hidup Terbaik), merupakan sebuah media yang memuat berbagai informasi tentang Sekolah Menengah Atas (SMA N 1) Lemahabang, Kabupaten Cirebon yang memuat segudang karya yang dimiliki oleh siswa/I SMAN 1 Lemahabang.
Menurut ketua Bulletin Light, Delvi Sulistin Monawati, Bulletin LIGHT terdiri atas 32 lembar atau halaman, di dalamnya berisikan beberapa berita hasil liputan, foto, dan lainnya yang dilakukan oleh para anggota Light. Dan kali ini, LIGHT edisi 13 telah rampung diterbitkan. Dan edisi ke 13 ini menurutnya adalah sebuah terbitan terakhir dibawah pimpinannya. sebelum sidang pertanggung jawaban (LPJ) dan pelantikan pimpinan baru. “Bulletin LIGHT edisi 13 ini terbit, bersamaan dengan acara Pemilihan Ketua OSIS SMAN 1 Lemahabang untuk periode 2014 – 2015,” ungkap Delvi Sulistin Monawati kepada Rakcer, Kamis (4/9) kemarin.
Dikatakan Delvi, Belum lama ini, Bulletin LIGHT juga telah mendapatkan nominasi sebagai Bulletin sekolah terbaik dalam ajang bergengsi Mading Sekolah Awards 2014 se-wilayah 3 Cirebon yang diselenggarakan oleh JINGGA Media dan Madingsekolah.net.
Delvi menambahkan, dalam memperjuangkan sesuatu Bulletin memang cukup berat, tapi hal itu menjadi motifasi tersenbdiri baginya. “Memmpertahankan Bulletin Light untuk tetap eksis memang cukup sulit. Komentar-komentar pedas tentang LIGHT juga bukanlah hal yang menyeramkan lagi. Kita jadikan itu sebagai bahan untuk bangkit, menunjukkan pada semua orang bahwa tak semua orang dapat membuat sebuah Bulletin sampai belasan edisi dan sampai di tangan pelajar SMAN 1 Lemahabang dengan sempurna ini,” katanya.
Menurutnya, Usaha, do’a dan ikhtiar yang dilakukan tim LIGHT kini membuahkan hasil. Selentingan komentar tak sedap sudah tak terdengar, tentunya karena diterbitkannya Bulletin LIGHT edisi 13 yang semakin keren. Apalagi ditambah dengan adanya nominasi yang diberikan oleh Jingga Media dan Madingsekolah.net kepada Bulletin Light. “Desain untuk LIGHT juga semakin bagus dan menarik,” ujar Yuzri Andrean, siswa kelas 11 SMAN 1 Lemahabang.
“Alhamdulilah, akhirnya edisi 13 ini terbit dan dapat dibagikan. Bulletin LIGHT edisi 13 ini langsung dibagikan oleh jajaran redaksi. Kami berkeliling ke semua kelas, membagikan LIGHT. Yang biasanya LIGHT diambil oleh ketua kelas masing-masing. Saat mendengar informasi bahwa Bulletin LIGHT edisi 13 sudah siap dibagikan, saya merasa bahagia. Karena itu berarti saya berhasil memimpin anggota LIGHT hingga menerbitkan 3 edisi. Saya memang merasa Bulletin LIGHT masih banyak yang harus diperbaiki, tapi sejauh ini sudah sangat bagus. Saya berharap, LIGHT bisa tetap eksis, bisa selalu menjadi juara dilomba manapun, bisa selalu dirindukan setiap terbitannya oleh siswa/i SMAN 1 Lemahabang. Dan smoga tetap sukses. Amiin,” pungkasnya.
Dan dengan adanya terbitan baru Light yang ke 13 tersebut, membuat para guru dan pembimbing di SMA N 1 Lemahabang medukung sepenuhnya dan memberi acungan jempol kepada tim Bulletin Light dan timnya yang sudah menerbitkan edisi ke-13 itu.

MA Nurul Huda Pelatihan Jurnalistik

***MA Nurul Huda bekerja sama dengan Radar Cirebon Group mengadakan pelatihan jurnalistik
ASTANAJAPURA – Demi meningkatkan minat siswa dalam hal penulisan dan meled media, madrasah aliyah (MA) Nurul Huda Munjul, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon sengaja bekerja sama dengan Radar Cirebon Group dengan mengadakan pelatihan jurnalistik kepada semua siswa.
Kepala Sekolah MA Nurul Huda, Mansyur mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut merupakan suatu respon postif dari pihak sekolah, karena memang kegiatan tersebut juga sudah bagian dari program sekolah. “Kami sengaja adakan kegiatan ini khusus untuk semua siswa yang minat di dunia jurnalis dan wartawan,” ungkap Mansyur kepada Rakcer di sela-sela acara pelatihan, Selasa (21/10), kemarin.
Dalam acara yang dihadiri oleh sebagian besar siswa dan siswi sekolah yang merupakan yayasan dari Nurul Huda tersebut berjalan antusias dan disambut baik oleh partisipasi pelajar yang mengikuti kegiatan yang dimulai dari pukul 09.00 ssampai dengan pukul 12.00 tersebut. “Alhamdulillah kegiatan ini disambut baik para siswa, dan semoga mereka mendapatkan pelajaran dan pengetahuan dari kegiatan ini,” ujar Mansyur.
Pengisi materi dalam pelatihan, Wahidin mengungkapkan kepada Rakcer bahwa pelatihan memang sangat penting dipelajari oleh semua siswa, bukan hanya siswa yang berada di MA Nurul Huda saja, akan tetapi semua siswa dari berbagai sekolah. Pasalnya, menurutnya orang belum bisa dikatakan pintar jika belum bisa menuliskan karyanya, dan dengan pelatihan jurnalistik itu, dirinya yang juga merupakan seorang alumni dari sekolah tersebut berharap agar semua siswa yang mengikuti kegiatan tersebut mendapatkan manfaatnya, dan bisa menulis. “Skil meulis sangat penting dimiliki oleh semua orang, begitu juga dengan siswa yang masih dalam tahap pembelajaran, karena dengan menulis, seseorang sudah bisa dikatakan pintar karena sudah bisa menuangkan segala fikirannya dalam sebuah penulisan. Dan semoga dengan adanya pelatihan ini, semua siswa dapat manfaat dan bisa menulis,” ujarnya.
Dikatakan Wahidin, dan dikuhususkan untuk para siswa yang berminat mendalami dunia jurnalistik dan aktif di organisasi siswa intra sekolah (OSIS), pihaknya menganjurkan agar terus aktif dan lebih mendalami dunia jurnalis. Dan untuk itu, dirinya siap jika sering mengisi pelatihan jurnalis selanjutnya. “Khusus untuk siswa yang aktif dan ingin jadi jurnalis, lanjutkan. Saya siap beri fasilitas dan masukan,” ujar Wahidin.
Sementara itu, Deny Hamdani yang juga merupakan pengisi materi dalam pelatihan tersebut juga berendapat bahwa seharusnya pihak sekolah sering melakukan pelatihan-pelatihan jurnalis seperti yang diadakan oleh MA Nurul Huda, hal itu menurutnya demi meningkatkan pengetahuan siswa terhadap dunia jurnalis dan penulisan. “Sebenarnya siswa diharuskan untuk bisa menulis, seperti penulisan berita, artikel, cerpen dan lain-lain. Karena dengan begitu, para siswa bisa mengeluarkan semua gagasannya dalam sebuah tulisan,” pungkasnya.

Jurnalisme Warga

Pemdes Gelar Pelatihan Jurnalisme Warga
ASTANAJAPURA – Demi mengembangkan desa di Kabupaten Cirebon, Pemerintah Desa (Pemdes) Buntet menyelenggarakan acara Pelatihan Jurnalisme Warga. Dalam acara tersebut, perangkat desa, Kuwu, mahasiswa, dan juga masyarakat sekitar turut serta mengikuti acara yang dilakukan di aula balaidesa Buntet, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon beberapa waktu lalu.
Camat Astanajapura, Iman Santoso mengatakan, pihaknya sangat mendukung dan berharap, dengan adanya kegiatan tersebut bisa membangun desa-desa yang ada di Kecamatan Astanajapura ke depan agar lebih baik lagi. Apalagi dalam segi teknologi dan informasi. “Diharapkan, dengan adanya acara ini bisa jadi sarana akuntansi public,” ungkap Iman kepada Rakcer.
Dirinya berharap, semoga dengan adanya kegiatan tersebut Kecamatan Astanajapura bisa berkembang dalam segala hal, terutama dalam hal informasi dan teknologi. “Saya dukung kegiatan ini, kami juga inginkan banyak masukan, baik secara IT dari tahun ke tahun, kegiatan ini juga sangat bermanfaat untuk perkembangan desa-desa. Semoga kedepan, Kecamatan Astanajapura bisa lebih maju lagi,” harapnya.
Sementara itu, Kuwu Buntet, Edi Suhaedi, pihaknya sangat menyambut baik atas terlaksananya acara pelatihan jurnalisme warga tersebut. pihaknya juga merasa optimis, dengan adanya website yang akan dikelola oleh masing-masing pihak desa tersebut, segala bentuk kegiatan dan informasi di desa bisa transparan. Masa depan dan kehidupan masyarakat desa akan menjadi lebih baik dan mandiri. “Saya menyambut baik pelatihan ini. Mudah-mudahan pelatihan ini dapat membuat desa semakin maju dan berkembang melalui tata kelola informasi,” katanya.

Anggota Dewan Minta Surat Kesepakatan Orang Tua Siswa

KEJAKSAN- Anggota DPRD dari Komisi C kecewa berat. Saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SMP Negeri 4 Kebon Baru yang ada hanya wakil kepala sekolah. Padahal, rombongan melakukan sidak sekitar pukul 09.00 WIB.
Ketua Komisi C DPRD Kota Cirebon H Sumardi menyatakan, saat sidak mereka hanya ditemui wakil kepala sekolah.
“Kami sidak kesana tapi tidak bertemu kepala sekolah dan ketua komitenya. Kami hanya ditemui wakil kepala sekolah. Kata wakasek, kepala sekolahnya tidak ada di tempat,” ujar politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini, kemarin.
Menurut Sumardi, dari hasil pembicaraan bersama wakil kepala sekolah bahwa anggaran ekstrakurikuler tersebut sudah berdasarkan keputusan bersama.
“Pengkuan dari pihak sekolah sudah berdasarkan keputusan bersama dan disepakati. Sedakangkan untuk yang ekenomi bawah tidak diminta sumbangan,” tuturnya.
Kendati demikian, sebut Sumardi, pihaknya tidak lantas percaya sehingga meminta bukti kesepakatan tersebut.
“Kami minta bukti kesepakatannya seperti apa.  Orang tua murid setuju terhadap pembiayaan tersebut, dan pihak sekolah bersedia memberikan,” tuturnya.
Saat ini, lanjut Sumardi, pihaknya masih menunggu bukti kesepakatan itu. ”Untuk kelanjutnya kami menunggu bukti itu dulu,” tuturnya.
Sumardi bertekad, pihaknya akan terus mengawal dan menelusuri persoalan tersebut.
Sayangnya, jika dalam sidak sebelumnya melibatkan wartawan, kali ini tidak mengundang wartawan saat inspeksi karena tidak enak dalam kepengurusan anggota komite ada istri-istri pejabat.
Saat ditanya, Sumardi membantah keras adanya kesengajaan tidak mengajak wartawan lantaran adanya istrinya pejabat.
“Tidak seperti itu, kami berkunjung kesana karena mendadak. Namanya juga sidak, masa harus dikasih tahu,” katanya.

900 Pesera Ikui Tryout SBMPTN

INDRAMAYU - Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Ikatan Mahasiswa Indramayu (HIKMI) menggelar tryout SBMPTN 2015 dalam mempersiapkan lulusan SLTA untuk memasuki jenjang pendidikan pada tingkat perguruan tinggi, Minggu (18/1).
Diikuti 900 peserta, kegiatan yang melibatkan organisasi daerah (orda) dan sejumlah perguruan tinggi itu dipusatkan di GOR Singalodra Sindang, Indramayu.
Ketua pelaksana, Devina Putri Damayanti mengatakan, kegiatan yang bertajuk tryout SBMPTN and schoolarship exhibition transition itu dilaksanakan dalam rangka memberikan bekal pembelajaran kepada siswa SLTA yang akan mengakhiri proses pendidikan dan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.
"Pesertanya semua dari kelas XII dari berbagai sekolah. Dan dari target 9 peserta bisa tercapai," jelasnya.
Melalui tryout tersebut, lanjunya, peserta diberikan berbagai bekal dan pengetahuan untuk persiapan menempuh proses seleksi masuk pada perguruan tinggi negeri sesuai keinginannya.
Sehingga kemampuan peserta dinilai perlu dipersiapkan untuk menentukan keberhasilan para peserta yang merupakan calon mahasiswa. "Kami berupaya mengedukasi dan meningkatkan kemampuannya agar peserta benar-benar siap mengikuti seleksi sebagai calon mahasiswa," kata dia.
Selain itu, diperkenalkan juga bidang-bidang perkuliahan. Dalam hal ini HIKMI melibatkan 16 orda dan perguruan tinggi untuk menjelaskan secara langsung kepada para pesera tryout.
Pembina HIKMI, H Syamsul Bachri SH MBA menyampaikan, dalam seleksi nanti dibutuhkan penguasaan terhadap bidang studi dasar dan bidang-bidang lainnya sekaligus menentukan program studi yang menjadi pilihannya. "Sukses masuk PTN sudah pasti diharapkan banyak orang. Untuk itu harus mengukur kesiapan, baik mental maupun materi uji. Termasuk juga mengukur tingkat persaingannya," ungkapnya.

Bebas Biaya Pendidikan hanya Omdo

**Ada Pungutan Ekskul Sebesar Rp440/Siswa di SDN 4 Kebon Baru

KEJAKSAN- Sejumlah orang tua murid SDN 4 Kebon Baru Cirebon mengeluhkan pembayaran sebesar Rp440 ribu/siswa untuk biaya ekstrakurikuler (ekskul).
“Kami tanyakan peruntukan anggaran itu secara rincin untuk apa saja. Kok sampai sebesar itu. Jujur, selain biaya yang tidak jelas, selama ini setiap siswa membayar kas kelas Rp50 ribu,” kata  orang tua siswa yang meminta namanya tidak dikorankan, kemarin.
Padahal, lanjutnya, dalam struktural komite sekolah dan bendahara dewan sekolah terdapat istri pejabat eksekutif kota dan wakil rakyat dari Kabupaten Cirebon.
“Kami tidak mengerti dengan semua ini. Katanya ibu dari pejabat pemerintah yang tahu aturan pendidikan. Tapi di lapangan, kebijakan sangat memberatkan orang tua siswa,” keluhnya.
Sementara itu, Ketua Komite SDN 4 Kebon Baru, Kusnadi kepada awak media membenarkan adanya pungutan Rp 440 ribu tersebut. Tapi, kata Kusnadi, pungutan itu bukan tanpa dasar dan kesepakatan. “Awalnya dari program sekolah, lalu kita tindaklanjuti rapat dengan mengundang 10 orang tua perwakilan masing-masing kelas. Maka keluarlah angka Rp 40 ribu/bulan/siswa. Dikali 11 bulan totalnya Rp 440 ribu dan itu disepakati,” paparnya.
Menurutnya, rincian dalam anggaran dari siswa itu, diperuntukan untuk membiayai sebanyak 10 kegiatan esktarkurikuler, semisal kegiatan Pramuka, bahasa Inggris, pencak silat dan lainnya.
“Pungutan ini tidak melanggar ketentuan. Karena seperti dikatakan Pak Wakil Walikota, orang tua yang mau memberi kontribusi sah-sah saja asal jangan memaksa mereka yang kurang mampu. Jadi ini benar transparan,” pungkasnya.

Dua Bulan Honor Penghulu Tak Dibayar

KUNINGAN - Pasca diberlakukanya PP 48 tahun 2014 tentang aturan biaya nikah sejak Juli 2014, membuat para penghulu tidak ada pemasukan. Agar tidak ada tindakan gratifikasi dari calon pengantin pemerintah mengeluarkan aturan baru yakni memberikan dana transport dan upah nikah bagi penghulu.
Namun sayangnya uang transport dan upah nikah belum di bayarkan oleh pemerintah seluruhnya. Sebagai bukti dana yang menjadi hak penghulu itu baru dibayarkan tiga bulan atau Juli-Oktober.
Sedangkan hak untuk bulan November dan Desember belum dibayarkan. Kondisi ini membuat para penghulu menderita karena mereka terpaksa menanggung sendiri uang tersebut.
“Dulu suka ada yang ngasih secara iklas, tapi setelah ada PP 48 saya takut. Makanya, mau tidak mau  harus nguras dari gaji. Padahal, gaji sudah ada alokasi untuk kebutuhan, jika seperti ini terus saya tersiksa,” kata salah seorang penghulu yang tidak mau dikorankan namanya.
Menurutnya, bukan hanya pembayaran yang terlambat. Tapi, perhitungan uang transport yang dihitung adalah per hari bukan per catin. Uang transpor yang dihitung adalah Rp110 ribu/hari (belum dipotong pajak). Meski dalam sehari yang menikah ada 15 pasang tetap dihitung satu hari. Kondisi ini merugikan karena uang transport tidak sebanding dengan yang dikeluarkan.
“Nikah di Kuningan itu tidak tiap hari namun memilih tanggal bagus. Jadi, kalau ada satu catin nikah tiap hari biaya yang dianggaran sebesar itu sebanding, tapi kalau yang menikah banyak bisa-bisa gaji sebulan habis,” jelasnya.
Untuk itu ia berharap, pemerintah merevisi kebijakan tersebut dengan cara menghitung per catin. Dirinya yakin para atasan di Kemenang baik di daerah maupun di pusat bisa melakukan perbaikan demi kebaikan para penghulu.
“Kalau tidak ada perubahan para penghulu akan merasa berat karena gaji habis, terus uang yang menjadi hak dibayarkan terlambat terus,” sebutnya.
Sementara itu, Kepala Kemenag Kuningan H Udang Munawar melalui Kasi Bimas H Rohaedi membenarkan belum dibayarkan uang transport dan honor nikah. Dana yang belum dibayarkan untuk November sebesar Rp195 juta dan bulan Desember Rp107 juta.
Bukan hanya dana dua bulan itu lanjut dia, tapi juga dana kekurangan sisa yang belum dibayarakan  dari Juli-Oktober yang besarannya Rp287 juta. Untuk uang upah nikah sendiri juga masih ada kekurangan sebesar Rp232 juta.
“Saya sudah katakan kepada penghulu dana itu pasti dibayar karena hak mereka. Pokoknya jangan khawatir dana itu pasti dibayar pada tahun 2015,” terangnya.
Rohedi sangat memahami keluhan penghulu karena pernah merasakan bagaimana kondisi di lapangan. Namun, bukan berarti pihak kemenag tidak akan memperhatikan.
Pihaknya sudah mengajukan pada tahun 2015, perhitungan di rubah menjadi per catin bukan per hari. Ia yakin hal ini bisa perhatikan oleh pemerintah dan merevisi aturan.
“Sekarang tinggal bekerja sebaik mungkin dan kami tengah berusaha. Kondisi ini dirasakan bukan oleh penghulu Kuningan tapi semuanya se-Indonesia. Adapun jumlah penghulu ada 42 orang,” pungkasnya.

Disdikpora Dituding Lempar Handuk

KUNINGAN – Saling lempar tanggungjawab antara pihak Disdikpora dan BPBD soal insiden robohnya pagar SDN 1 Rambatan Kecamatan Ciniru beberapa waktu lalu, mendapat sentilan khusus dari pengamat pendidikan, Ade Ahmadi.
Sebagai penanggung jawab penuh dunia pendidikan, menurutnya Disdikporalah yang mestinya bisa mengatasi dan membangun kembali pagar tersebut dengan konstruksi bangunan yang kuat.
“Disdikpora jangan lempar handuk dong. Lembaga ini kan penanggung jawab penuh dunia pendidikan di kuningan, termasuk sarana dan prasarananya. Ya, ngebangun lagi pagar segitu mah kecil lah,” sindir Ade, saat berbincang dengan Rakcer, kemarin (16/1).
Menurutnya, kejadian robohnya pagar SDN 1 Rambatan serta kejadian-kejadian lainnya seperti ambruknya atap baja ringan TK eks RSBI Cikaso, robohnya atap SDN Wanasaraya Kecamatan Kalimanggis dan juga robohnya pagar SMAN 1 Pasawahan beberapa waktu lalu merupakan bukti jika pembangunan infrastuktur pendidikan di kuningan patut mendapat pengawasan.
“Saya yakin, kalau saja sistem pengawasannya ketat apalagi biayanya juga kan cukup besar-besar, berbagai insiden ambruk dan robohnya bangunan itu akan minim terjadi. Ini harus diperhatikan dan jangan dianggap sepele, apalagi disaat masyarakat sekarang sudah melek,” ujar Ade.
Sementara itu, Kepala Disdikpora Drs A Taufik Rohman MSi melalui Kabid Pendik, H Atoni SSos MSi, menjelaskan, soal ambruknya pagar SDN 1 Rambatan sudah dilaporkan ke pihak BPBD melalui Desa dan Kecamatan untuk bisa dikaji apakah masuk bencana atau tidak. Pihaknya pun sudah mengambil langkah lain dengan memanggil pelaksana pembangunan pagar yang dibangun pada Agustus 2014 dengan menghabiskan biaya hanya sebesar Rp40 juta.
“Kami sudah melapor ke BPBD untuk meminta kajian. Kami juga sudah memanggil pelaksana pekerjaan pembangunan pagar itu karena masih dalam masa pemeliharaan. Kita sedang menunggu kajian teknisnya, karena ini berkaitan dengan TPT (tembok penahan tebing),” pungkasnya.

Unswagati

LEMAHWUNGKUK– Fakultas Hukum (FH) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon, melepas 36 calon wisudawan dan wisudawati ke XLI, kemarin (12/1).
Pelepasan yang digelar di Green Eastern Resto Jalan Bahagia, tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Yayasan Letkol H Asep Djazuli, Rektor Unswagati Prof Dr H Rochanda Wiradinata MP, beserta para dosen dan staf.
Menurut Dekan FH, Prof DR Ibnu Artadi SH mengatakan, pihak nya menaruh harapan terhadap lulusan hukum, mengingat Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak persoalan hukum didalam nya.
Sehingga, menurutnya, hal tersebut bisa dijadikan laboratorium nyata untuk para lulusan nya.
“Banyak persoalan baik di daerah maupun nasional. Oleh karena itu kalian memiliki kesempatan untuk terjun langsung di dalamnya,” ujarnya saat memberikan sambutan.
Ditambahkan dekan, lulusan FH memiliki banyak kesempatan dibandingkan dengan fakultas lain nya.
Apalagi, kata dia, FH Unswagati merupakan terbaik di Jaw Barat bahkan nasional. Sehingga dirinya yakin lulusan terbaik tersebut, mampu bersaing dan mengaplikasikan ilmu yang selama ini didapa nya selama kuliah.
Sementara itu, Rektor Unswagati Prof DR Rochanda Wiradinata SH mengatakan, dirinya merasa bangga dan memberikan apresiasi terhadap Dekan FH beserta jajarannya.
Lantaran telah berhasil mencetak lulusan yang terbaik, dirinya yakin ke-36 calon sarjana hukum tersebut telah melewati proses yang terstruktur. Sehingga ketika lulus, lanjut dia, memiliki daya saing tinggi.
“FH itu sebagai pionir di Unswagati. Banyak prestasi yang prestisius telah diukir. Baik tingkat provinsi maupun nasional,” ujarnya.
Menjadi lulusan FH Unswagati harus bangga, kata rektor yang akrab disapa Djohan ini, banyak pejabat tingkat daerah hingga pusat merupakan lulusan hukum kampus swasta terbesar di Cirebon itu. Dirinya berharap, para lulusan peka terhadap persoalan yang ada dimasyarakat. Khusus nya persoalan yang menyangkut hukum.
“Kami sangat menunggu keberhasilan kalian dalam mengurai benang kusut persoalan Indonesia,” paparnya.

Lapangan Pergamanas Tidak Layak Pakai

Hujan Deras, Ribuan Peserta Kemah Pergamanas Mengungsi

PALIMANAN- Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Cirebon membuat Perkemahan Penggalan Maarif Nasional (Pergamanas) kebanjiran.
Tidak adanya saluran resapan air membuat ribuan peserta kemah terpaksa mengungsi ke ruang kelas dan gedung olah raga. Tenda-tenda yang mereka dirikan pun kini terlihat layaknya barak pengungsian.
Pimpinan Kontingen Jepara Jawa Tengah Suwikdi menyesalkan pemilihan tempat perkemahan yang tidak sesuai standar.
Lahan yang disiapkan panitia merupakan persawahan yang kering. Namun ketika diguyur hujan, lahan bekas persawahan itu tergenang air.
“Sampai semata kaki, terpaksa dipindahkan ke GOR. Habisnya becek, karena tanah kan jadi lumpur. Jadi ini biar kering dibuka dulu (tendanya) terus dipasang lagi,” katanya saat ditemui di perkemahan Pondok Pesantren Khas Desa Kempek Kecamatan Gempol Kabupaten Cirebon, Jumat (9/1).
Suwikdi mengatakan gerakan pramuka ini telah memiliki payung hukum melalui Undang-Undang Nomor 12 tahun 2010.
Selain menegaskan keberadaan gerakan pramuka, kata dia, undang-undang pun membahas tentang segala kegiatan yang dilakukan pramuka. Berikut juga perkemahan dan standarisasi bumi perkemahan.
Dia mengatakan, bumi perkemahan harus memiliki kemiringan tertentu untuk aliran air. Bumi perkemahan pun telaknya tidak terlalu masuk hutan namun rindang.
“Tapi ini kan bekas sawah jadi berlumpur. Terus perkavlingan tidak sesuai. Harusnya sesuai standar untuk 10 orang itu lahannya 6-8 meter. Itu untukk dapur juga. Tapi ini cuma dikasih 4-6 meter,” ujar Suwikdi yang membawa 40 peserta kemah.
Hal senada diungkapkan Muhamad Nur Zen, salah seorang peserta dari Kontingen Tasikmalaya Jawa Barat. Bersama teman-temannya, dia mengaku harus berdesakan tidur di GOR.
Hujan deras membuat mereka terpaksa membereskan peralatan yang telah disiapkan dalam tenda.
“Tidur di GOR karena tenda kebanjiran, tempatnya juga tidak representatif buat kemah,” kata dia.
Berdasarkan pantauan wartawan koran ini, penyelenggaraan Pergamanas 2015 menyedot antusiasme pelajar se-Indonesia. Namun kesiapan tempat dan panitian penyelenggaran terbilang kurang mamksimal. Lokasi perkemahan ini terletak di hamparan sawah di sekitar pondok pesantren.
Beberapa kavling perkemahan dilapisi bambu-bambu untuk menangkal banjir.
Namun di beberapa kavling lainnya dibiarkan beralas tanah. Alhadil ketik ahujan turun, perkemahan tidak bisa digunakan karena kondisi becek.
Lebih jauh dari itu, komplek perkemahan pun di sisi lain mirip pasar malam. Para pedagang dibiarkan berjualan di dalam lokasi perkemahan.
Berbagai macam asesori pramuka sampai pakaian untuk oleh-oleh dan seragam tim sepak bola di jual pada “Pasar malam darurat” ini. Alhasil tidak sedikit peserta yang memilih berbelanja ketimbang mengikuti kegiatan perkemahan.
Padahal dalam tiga hari penyelenggaraan, kegiatan pramuka penggalang Nahdlatul Ulama (NU)se-Indonesia ini mendapat perhatian khusus dari sejumlah menteri dan pejabat. Setelah Menteri Pemuda dan Olah Raga Imam Nahrowi, Menteri Agama Lukman Hakim Syafiudin serta Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, kemarin giliran Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri yang berkunjung. Tidak hanya itu, Hanif pun memberikan materi kepada sebagian peserta kemah.
Sebagai bagian dari NU, Hanif mengaku senang dapat ikut serta pada Pergamanas kali ini. Namun demikian dia juga berharap pada penyelenggaraan berikutnya akan lebih baik lagi. “Pada intinya saya senang telah diundang. Sebagai bagian dari NU, berharap segala ilmu dapat diserap dan diamalkan para peserta,” kata dia.
Sementara saat hendak dimintai tanggapan terkait keluhan para peserta, Ketua Panitia Pelaksana sulit temui. Dihubungi melalui sambungan telepon, yang bersangkutan mengaku tengah rapat. "Saya sedang rapat mas, coba dihubungi saja ke Pak Yayan," kata dia. Namun kemudian ketika dihubungi wartawan, Yayan tidak memberikan jawaban. (kim)
FOTO : KIM ABDURROKHIM/RAKYAT CIREBON

Bahaya HIV/AIDS

Ulfah Naylatun Najah Aktif Beri Penyuluhan HIV-AIDS

PENYAKIT Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Deficiency Syndrom (AIDS) jadi penyakit yang hingga saat ini masih belum ditemukan obatnya. Namun, sebagai bentuk kepedulian, Ulfah Naylatun Najah bersama dengan mahasiswa pegiat Cirebon Health Youth Forum (CHYF) sering menggelar sosialisasi tentang bahaya dan pencegahan HIV/AIDS ke masyarakat, terutama remaja, terutama di kampus.
Hal itu diungkapkan Ulfah saat bersama mahasiswa lain yang aktif di CHYF. Dia mengaku sering mengadakan acara sosialisasi bahaya HIV/AIDS dengan mengadakan tes di berbagai tempat terutama di kampusnya dan di beberapa pondok pesantren (pontren).
Menurutnya, HIV merupakan virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Akhirnya, tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit tersebut.
Gadis yang menjabat koordinator umum itu mengaku sengaja melakukan acara sosialisasi yang di dalamnya ada kegiatan tes HIV/AIDS. Biasanya bekerjasama dengan pihak klinik di berbagai tempat untuk mencegah dan mensosialisasikan bahya HIV/AIDS.
“Saya dan temen-temen sering melakukan acara sosialisasi dan kampanye bahaya HIV/AIDS. Di samping karena merasa perihatin, dengan acara seperti itu kami bisa mengampanyekan penanggulangan penyakit HIV/AIDS. Paling tidak, kita bisa mencegahnya, karena penularan penyakit ini tidak seperti biasa, makanya kami juga melakukan tes HIV,” ungkap mahasiswi semester VII Jurusan KPI di IAIN Syeikh Nurjati Cirebon itu.
Dikatakan, CHYF yang terdiri dari 9 orang mahasiswa sering melakukan acara sosialisasi dan tes HIV/AIDS. Tujuannya, ingin agar remaja, khususnya di lingkungan kampus tahu lebih dini dan bisa berusaha meminimalisir tertularnya virus HIV. Karena sekarang sangat minim sekali remaja yang peduli kesehatan diri sendiri, apalagi orang lain.
“Semoga dengan adanya penyuluhan dan tes HIV yang sering saya dan teman-teman lain lakukan, remaja mengetahui lebih dini. Jika ada yang positif dari hasil tes, maka dapat ditanggulangi secepatnya oleh tim kesehatan yang khusus menaggulangi orang-orang yang positif terkena virus HIV," katanya. (kim)

CHYF Gelar Sosialisasi dan Tes HIV-AIDS



***Kerjasama Semua Pihak Mutlak Dibutuhkan Dalam Rangka Memutus Mata Rantai Penularan

CIREBON – Penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Deficiency Syndrom (AIDS) merupakan penyakit yang sampai sekarang masih belum ada obatnya. Sebagai bentuk kepedulian, mahasiswa pegiat Cirebon Health Youth Forum (CHYF) menggelar sosialisasi tentang bahaya dan pencegahan HIV-AIDS ke masyarakat, terutama para remaja, kemarin (30/12).
Adapun acara sosialisasi dan tes HIV-AIDS yang dilakukan di sebuah pondok pesantren Ulumuddin, karena dinilai bahwa HIV merupakan sebuah virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia, yang akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit tersebut.
Koordinator Umum CHYF, Ulfah Naylatun Najah kepada Rakcer mengungkapkan, pihaknya sengaja melakukan acara sosialisasi yang di dalamnya ada kegiatan tes HIV-AIDS yang bekerja sama dengan pihak klinik.
“Kami sengaja melakukan acara ini, di sa,mping karena merasa perihatin. Dengan ini bagaimana kita bisa mengkampanyekan dan menanggulangi penyakit HIV-AIDS. paling tidak, kita bisa mencegahnya, karena penularan penyakit ini tidak seperti penyakit biasa. Makanya kami juga melakukan tes HIV,” ungkapnya.
CHYF yang terdiri dari 9 orang mahasiswa yang sering melakukan acara sosialisasi dan tes HIV-AIDS di berbagai tempat. Dimana CHYF terdiri dari 9 orang, 3 mahasiswi dan 6 mahasiswa. Tujuannya yakni ingin remaja, khususnya di kampus IAIN ini agar tau lebih dini dan bisa berusaha meminimalisir tertularnya virus HIV. Karena sekarang sangat minim sekali remaja yang peduli akan kesehatan diri sendiri apalagi kesehatan orang lain.
"Nah, adapun penanggung jawab CHYF Bapak H. Syaeful Badar, salah satu dosen KPI di IAIN," katanya. Semoga dengan adanya penyuluhan dan tes HIV ini, remaja mengetahui lebih dini, jika ada yang positif dari hasil tes maka dapat ditanggulangi secepatnya oleh tim kesehatan yang khusus menaggulangi orang-orang yang positif terkena virus HIV.
Sementara itu, Koordinator Bagian HIV, Akhmad Izzudin menambahkan, bahwa seseorang yang sudah terkena penyakit AIDS tidak bisa diobati dan belum ada obatnya. Hanya saja, kata dia, bisa ditanggulangi dengan hanya menahan laju pertumbuhan virusnya.
“Karena bagaimana pun juga, orang yang sudah terkena HIV-AIDS itu sudah tidak bisa diobati atau tidak ada obatnya, hanya adanya obat untuk menahan laju pertumbuhan virus. Jadi semakin cepat kita mengetahui bahwa kita terinfeksi atau tidak, maka itu semakin bagus, karena jika kita sudah mengetahuinya, maka kita lakukan pengobatan untuk menahan laju pertumbuhan virus,” tegasnya.
Selama ini kata dia, angka penderita penyakit AIDS masih terus bertambah dari tahun ke tahun. Karena menurutnya angka tersebut akan terus bertambah. Dan diharapkannya dengan adanya kampanye-kampanye yang dilakukannya selama ini bisa mencegah penyakit tersebut.
“Penderita penyakit HIV-AIDS ini angkanya komulatif, karena masih banyak yang belum terdeteksi oleh kami, yang kami lakukan selama ini datanya simulative. Penderita penyakit ini kan tidak sembuh, malah justru semakin bertambah. Dengan adanya kampanye-kampanye yang sudah kami lakukan, kita sudah bisa mengetahui dan penderita yang terjangkit bisa mengobati dengan menahan perkembangan virus itu sendiri,” pungkasnya. (kim)

FOTO : KIM ABDURROKHIM/RAKYAT CIREBON

ANTISIPASI. CHYF melakukan tes HIV-AIDS dan kampanye tentang bahaya HIV-AIDS, kemarin di pesantern Ulumudin Karyamulya Kota Cirebon.

Kemendikbud Periksa PAUD Penerima Bansos

SUMBER– Pemberian dana bantuan sosial baik berasal dari pusat maupun daerah ternyata rawan adanya potongan ilegal.
Oleh karena itu, diperlukan pengawasan ekstra ketat untuk memantau aliran pemberian dana bansos tersebut.
Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Non Formal dan Informal (PAUDNI) melakukan pemeriksaan kepada penerima dana bansos kementerian tahun 2014.
Tak terkecuali di Wilayah Kabupaten Cirebon, petugas dari kementerian pun turun langsung ke lembaga PAUD yang menerima.
Seperti terlihat di PAUD Khadiba, Desa Palir Kecamatan Tengah Tani, Jumat (26/12), salah seorang perwakilan kementerian melakukan kunjungan kerja terkait pemberian dana bansos kepada PAUD tersebut.
Walaupun tidak ada kegiatan anak-anak karena tengah dalam keadaan libur, perwakilan kementerian itu diterima langsung oleh pengurus lembaga PAUD Khadiba.
Dalam pemeriksaan itu, perwakilan kementerian menanyakan mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan dana bansos yang diberikan.
Mulai dari pencairan hingga penggunaan dana itu sendiri. Bahkan, perwakilan kementerian pun meminta laporan penggunaan anggaran sebagai dasar pertanggungjawaban lembaga kepada pemberi bantuan yang tak lain adalah kementerian itu sendiri.
Usai kunjungan, pegawai kementerian menjelaskan kedatangannya kali ini memang untuk memantau pemberian dana bansos. Akan tetapi, dirinya menyangkal pemeriksaan ini akibat dari adanya kasus dugaan penyelewengan dana bansos di Kabupaten Cirebon.
“Kami dari kementerian memang setiap ada bantuan selalu di monitor dengan melakukan kunjungan. Kami juga tidak mengetahui kalau disini sedangan ramai kasus bansos,” ujar perwakilan kementerian, Wisnu Ganjar SE, kemarin.
Meskipun demikian, Wisnu tidak menampik adanya kasus penyelewengan dana bansos di kementerian pendidikan. Namun, untuk Kabupaten Cirebon sendiri, dia menegaskan, belum ada temuan.
“Makanya kami kesini juga untuk mengetahui ada atau tidaknya penyelewengan dana bansos itu. Kami melakukan kunjungan ini hanya ingin memastikan bantuan yang diberikan oleh pusat diterima secara utuh oleh lembaga PAUD disini tanpa adanya potongan dari pihak lain. Setelah kami tanyakan kepada pengurus PAUD, memang mereka menerima utuh tanpa potongan karena dana itu ditransfer langung ke rekening PAUD,” bebernya.
Disinggung mengenai jumlah PAUD yang menerima bantuan sosial dari kementrian pada tahun 2014, Wisnu mengatakan untuk wilayah Kabupaten Cirebon terdapat tujuh PAUD yang tersebar di seluruh kabupaten.
“PAUD ada tujuh sesuai dengan data yang kita miliki. PAUD itu sendiri ada di Arjawinangun, Suranenggala, Pangenan, Kaliwedi, Tengah Tani dan Mundu,” tuturnya.
Wisnu mengingatkan kepada seluruh PAUD untuk segera menyerahkan laporan penggunaan dana tersebut ke kementrian.
“Kalau memang dikoordinir oleh Dinas Pendidikan, maka diusahakan setiap lembaga memiliki laporan tersendiri karena jika kita tidak sempat mengunjungi lembaga itu, mereka tinggal menyerahkan laporannya saja,” tandasnya.
Sementara itu, pengurus PAUD Khadiba, Supami menyatakan, dirinya merasa senang dengan adanya kunjungan dari kementerian. Pasalnya, dia bisa bertukar pikiran untuk mengelola PAUD yang sesuai dengan aturan.
“Kita juga bisa menyampaikan permasalahan yang ada disini. Kami merasa diperhatikan oleh pemerintah pusat dengan adanya kunjungan ini,” jelasnya. (kim)
Powered by Blogger.